Profil Pengisi Acara seminar “why net pelajar ngenet”

rencanya Insan Madani Learning Centre bekerjasama dengan Rohis SMAN 2 Kab. Tangerang Mauk akan mengadakan kegiatan Seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi Pelajar 2011 dengan tema “Why Net, Pelajar Ngenet”.

Berikut ini adalah profil dari pembicara dalam seminar yang akan diselenggarakan pada hari Minggu 27 November 2011:

Ahmad Yunus

hanyalah anak desa biasa di sebuah desa di Tangerang Utara. Menapaki jalur pendidikannya di SDN Gintung 3 (sayang sudah dilikuidasi karena kekurangan murid), SMPN 1 Mauk, SMAN 1 Mauk (sudah berubah nama menjadi SMAN 2 Kab. Tangerang), dan Jejang Perguruan tinggi di Program Studi Ilmu Perpustakaan dn Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Lelaki yang hobi membaca, menulis, memotret, dongeng dan jalan-jalan ini pernah menjuari lomba cerdas cermat SD tingkat kecamatan Mauk Kab. Tangerang. Dan tahun 2010 menerima penghargaan Internet Sehat Blog and Content Award katagori Bronze dari ictwatch.com/internetsehat. Serta masuk nominasi 100 besar Kompetisi Blogger Banten 2011 dengan menyisihkan tujuh ribuan pendaftar. Pada bulan Agutus 2011 mendapatkan 2nd Runner Up Kompetisi Artikel “Kebebasan Berekspresi di Internet” yang diadakan oleh Internet Sehat dan didukung oleh HIVOS Belanda. Terakhir menang Tweet Competition pada acara Konferensi Sanitasi dan Air minum Nasional 2011.

Tulisan pertamanya yang dimuat di media massa berupa cerpen di Majalah Sabili saat masih duduk di bangku kelas dua SMA. Semenjak itu semakin produktif menulis. Tulisan–tulisannya, baik fiksi maupun nonfiksi pernah dimuat di majalah Sabili, Seputar Indonesia, Republika, Satelit News (Banten), dan beberapa media internal. Tapi, sekarang lebih senang dengan kegiatan blogging, dan menganalisis mesin pencari, situs-situs untuk dunia pendidikan, serta prilaku pengguna internet. Profilnya pernah muncul di situs detikInet.com

Ia juga membidani lahirnya Insan Madani Learning Centre, sebuah LSM yang concern terhadap pembinaan pelajar di Tangerang yang visinya menjadi mitra pelajar dalam mengembangkan potensinya. Dan dipercaya oleh teman-temannya untuk menduduki jabatan sekretaris jenderal Insan Madani Learning Centre.

 

Andreas Senjaya

Jay nama panggilannya. Saat ini duduk sebagai Anggota Majelis Wali Amanat UI dari unsur mahasiswa. Setelah beranjak besar, pemuda yang saat ini berkuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI ini bermimpi untuk bisa menjadi menteri komunikasi dan informasi Republik Indonesia pada tahun 2035. Ia ingin memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia dengan meningkatkan teknologi informasi yang ada di negeri ini. Ia juga ingin memberikan banyak sekali manfaat terutama kepada masyarakat Indonesia yang mengalami kekurangan dalam bidang ekonomi.

Di bidang teknologi ia adalah Chief Business Development Officer  Badr Interactive, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayanan pembuatan berbagai macam produk atau konten teknologi informasi. Badr Interactive memiliki visi untuk menciptakan produk-produk teknologi informasi yang dapat bermanfaat di dalam masyarakat.

Dibidang sosial entrepreneurship mendirikan Nalacity Foundation bersama teman-temannya, yaitu sebuah program charity di mana Nalacity membina ibu-ibu dari keluarga Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Kampung Kusta Sitanala Tangerang untuk mendapatkan penghasilan sendiri dengan membuat produk jilbab payet. Selain dapat menunjang kebutuhan ekonomi mereka, proyek ini juga akan meningkatkan kepercayaan diri warga melalui produk nyata yang mereka hasilkan, serta memicu ide-ide wirausaha kreatif lainnya yang dapat mereka lakukan. Berkat usahanya Nalacity sudah diundang di Kick Andy Metro Tv dan TV One.

Prestasi alumni dari Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Statergis Nurul Fikri regional Jakarta angkatan ke-4 dan alumni Leadership Scholarship Nutrifood Indonesia ini berderet mulai dari Regional Leader of the Month PPSDMS, National Leader of the Month PPSDMS, Finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXII 2010, peserta terbaik Indonesia Leadership Development Program 2010, peserta terbaik Indonesia Leadership Camp 2010, juara II Social Entrepreneruship Initiative ILC 2010, Juara I PKM GT FSRD Fasilkom UI 2010, Juara I Pameran Produk Kreatif OIM UI 2010, Juara III PKM GT OIM UI 2010, Mahasiswa Berpretasi Utama Fasilkom UI 2010, dan Runer Up Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2010.

Film Dokuemnter Linimas(s)a

@linimas(s)a atau Linimassa atau Timeliner(s) atau Timeline merupakan film dokumenter yang dibuat oleh WatchDoC Documentary Maker. Diproduseri oleh oleh Donny BU (@donnybu). Disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono (@dandhy_laksono). Film ini merupakan inisiatif dari ICT Watch (ictwatch.com) dan diproduksi bersama dengan WatchdoC. Hak cipta dan hak distribusi dipegang sepenuhnya oleh ICT Watch. Film ini didukung oleh XL Axiata, Detikcom, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Digital Media Technology dan HIVOS. @linimas(s)a disebut Sebuah film yang disebut sebagai dokumenter pertama mengenai social media di Indonesia.

@linimas(s)a dapat diartikan dalam 2 kata yaitu “lini” dan “massa”. Lini dapat diartikan jalur, arah, sinergi. Massa berarti kelompok, komunitas ataupun masyarakat luas. Judul film @linimas(s)a menggambarkan kekuatan gerakan sosial publik di ranah offline maupun online, yang saling beresonansi, bersinergi dan menguatkan secara signifikan. Film ini menceritakan pula bagaimana pemanfaatan Internet dan media sosial oleh orang biasa untuk melakukan hal yang luar biasa!

Ditulis pada Iptek, Kabar | Tinggalkan Komentar

Cara Mendukung Program IMLC untuk hibah media dari Ciptamediabersama.org

Saat ini, IMLC sedang menginisasi sebuh program dan masuk kedalam proses seleksi Cipta Media Bersama.proses seleksi dilakukan dengan dua tahap. Seleksi pertama akan dipilih 30 ide terbaik oleh tim seleksi pertama dan garda publik. Tim seleksi akan memilih 25 aplikasi, sedangkan 5 aplikasi lainya adalah pilihan publik. Karena itu kami mohon bantuannya untuk mendukung aplikasi kami, yaitu pelajartangerangnews.com. batasnya samapi 27 September 2011.

sebenarnya sudah banyak dukungan yang masuk, tapi karena kami barud apat kabar bahwa situs ciptamedia mengalami kerusakan, maka sebagian besar dukungan lewat fb hilang.

Banyak sekali teman dan adik-adik di sekolah yang bertanya bagaimana cara mendukung program IMLC agar mendapatkan dana hibah sebesar 50 Juta dari Cipta Media Bersama. Mereka mengaku kesulitan untuk membantu karena banyak yang belum tahu caranya. Untuk itu kami ingin member tahu caranya sebagai berikut:

  1. Buka alamat situs ini: http://www.ciptamedia.org/2011/08/25/pelajartangerangnews-com/, maka akan muncul halaman berikut

  1. Arahkan tetikus (mouse) kamu kotak berwarna kuning yang bertuliskan pilih, kemudian klik kata “pilih” di kotak kuning tersebut.

  1. Arahkan tetikus (mouse) kamu ke facebooknya kemudian klik,

maka akan muncul kotak dialog sebagai berikut:

isi email dan password FB anda. Kemudian log in. maka dukungan akan bertambah.

Ditulis pada Iptek, Kabar | Tinggalkan Komentar

IMLC Mengisi SIR MAN Mauk 2011

Pada Ramadhan tahun ini, untuk kedua kalinya IMLC mendapatkan undangan untuk mengisi Studi Islam Ramadhan (SIR) di MAN Mauk. Adapun Materinya telah dibagi oleh panitia dari OSIS menjadi empat materi pokok yaitu, Sejarah Ramadhan dengan pemateri H. Iman Firdaus, LC; pacaran dalam Islam dengan pemateri H. Taufik Munir, LC; Training Motivasi dengan pemateri dari IMLC; dan menyongsong Laylatur Qadar dengan pemateri Drs. Khifti.

SIR di MAN Mauk ini berlangsung dari hari Kamis 18 Agustus sampai Jumat 19 Agustus 2011 dengan bertempat di Kampus 1 MAN Mauk Buaran Jati.

Pada SIR kali ini, IMLC menurunkan Sekjen, Ahmad Yunus, untuk menjadi pembicara. Ahmad Yunus membawakan materi tentang Merancang Mimpi. Semoga materi yang telah disampaikan oleh IMLC bermanfaat bagi para peserta.

Untuk materi bias download di sini

Ditulis pada Kabar, Motivasi, Pembangunan Karakter | Tinggalkan Komentar

IMLC dan Rohis SMAN 11 Kab. Tangerang Gelar Bukber dan Nuzulul Qur’an

   Tanggal 17 Agustus 2011 merupakan tanggal yang penuh makna. bukan saja bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Tetapi juga bertepatan dengan 17 Ramadhan, hari diturunkannya Al quran.

   Menyongsong hari besar itu, Rohis SMAN 11 Kab. Tangerang bekerjasama dengan IMLC menggelar buka puasa bersama dan Nuzulul Quran. Acara ini dihadiri oleh 70 peserta yang berasal dari beberapa sekolah di kawasan utara Tangerang. pada acara ini peserta diminta untuk mengkhatamkan al Quran, dengan cara satu orang mendapatkan jatah satu juz Al Quran. Setelah selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, dan ditutup dengan doa.

   Semoga acara yang kami lakukan mendapatkan berkah. amin

Ditulis pada Kabar, Pembangunan Karakter | Tinggalkan Komentar

IMLC siapkan portal Berita Khusus

IMLC sebagai mitra pelajar dalam mengembangkan potensi diri, saat ini sedang mencoba untuk merancang sebuh portal berita khusus pelajar yang nantinya dikhususkan untuk pelajar di Tangerang. Selain itu, situs ini juga disiapkan untuk menampung karya yang dihasilkan oleh pelajar di Tangerang.
Proyek ini saat ini sedang mengikuti proses Hibah di Cipta Media Bersama
Berikut ini deskripsinya:

Inisiator:
Insan Madani Learning Centre (IMLC)

Tanggal aplikasi:
26 Juli 2011

Lokasi:
Tangerang, Banten

Dana yang diminta:
50 Juta Rupiah

Topik hibah:
Kebebasan dan etika dalam bermedia

Masa aktivitas:
Januari – Juni 2012

Masalah yang ingin diatasi:
Ingin memberikan informasi kepada para pelajar mengenai dunia pendidikan (beasiswa, ekstrakulikuler, dll), melakukan aksi yang mempu melejitkan potensi belajar dan kreativitas pelajar, mengumpulkan konten lokal menangani lingkungan tempat tinggal dan sekolah pelajar, dan merangkai tali persaudaraan antar-pelajar dari berbagai daerah di situs ini

Cara mengatasinya dan masyrakat yang diuntungkan:
Membuat situs berita yang isinya khusus dunia pendidikan dan kegiatan para pelajar di sekolah masing-masing, promosi situs, melatih para pelajar dalam membuat karya tulis yang nantinya akan dimuat dalam situs ini, memberikan hadiah kepada pelajar yang karyanya dimuat, dan mencari dana lewat iklan dan lain-lain. Pihak yang diuntungkan adalah pelajar SMA Sederajat berusia 15-18 tahun di lebih dari 15 sekolah di Kabupaten Tangerang, khususnya wilayah utara

Ukuran kesuksesan:
Secara kuantitatif berdasarkan jumlah pengujung ke situs ini minimal 50 orang perhari, minimal ada 10 karya dari pelajar yang dikirim ke situs ini perbulannya, dan minimal 5 konten dari pelajar yang dipublish ke situs ini per bulannya. Secara kualitatif berdasarkan meningkatnya kualitas tulisan dari para pelajar yang mengirimkan karyanya ke situs ini dan penghargaan dan pengakuan yang diraih oleh situs ini di masa datang

mohon dukungan dengan mengklik suka dan kirim komentarnya di sini: http://www.ciptamedia.org/2011/08/01/pelajartangerangnews-com/

Ditulis pada Iptek, Kabar | 2 Komentar

Tugu Otista, Tragedi Pantai Mauk yang Terlupakan

Tugu Otista, Tragedi Pantai Mauk yang Terlupakan

oleh: Rahmita El Jannati

HARI itu, 31 Maret 1897, udara di Desa Bojongsoang, Kabupaten Bandung, begitu cerah. Burung-burung pipit berterbangan di atas atap rumah sambil berkicau riang. Di dalam sebuah rumah yang terbilang paling besar di antara rumah-rumah lainnya di desa itu, seorang laki-laki dengan wajah gelisah berjalan hilir mudik di pintu kamar menantikan persalinan istrinya. Sesekali laki-laki yang bernama Raden Haji Rachmat Adam itu, menghela nafasnya dalam-dalam. Berusaha menghalau rasa cemasnya.

Ketika rasa cemasnya kian menjadi, tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang bayi yang sangat nyaring. “Oh, itu pasti suara tangis anakku! Alhamdulillah, anakku sudah lahir,” seru Raden Haji Rachmat Adam dengan wajah berbinar. Dengan penuh kegembiraan, ia pun menemui istrinya, Raden Siti Hatdijah, yang masih terbaring lemah di atas pembaringan.

“Pak, anak kita yang ketiga ini adalah laki-laki,” kata Raden Siti Hatdijah seraya tersenyum.

“Iya bu. Lihat, anak kita ini sangat tampan dan gagah sekali, “ jawab Raden Haji Rachmat Adam sambil mendekap bayi laki-lakinya itu.

“Bapak dengar tadi, tangisan anak kita keras sekali. Sepertinya dia tak betah diam,” kata Raden Siti Hatdijah, sang istri.

“Iya. Jika dilihat dari gerakan badan dan suara tangisannya yang keras itu, sepertinya anak kita ini kelak akan menjadi seorang pemimpin yang pemberani, yang akan membuat takut kolonial Belanda agar mereka segera menghentikan penjajahannya di negeri ini.”

“Iya pak, semoga anak kita ini menjadi orang yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Oh iya, siapa nama anak kita ini, Pak? Apakah bapak sudah menyiapkannya?“

“Tentu. Sejak jauh-jauh hari, bapak sudah siapkan nama yang bagus untuk anak kita ini. Namanya, Otto Iskadardinata.

Bagaimana, ibu setuju ‘kan?” Sang istri tersenyum, lalu menganggukkan kepala sebagai pertanda setuju.

                                                                                            ***

OTTO dibesarkan dalam suasana keluarga yang berekonomi lebih dibandingkan dengan anak-anak lain di kampungnya. Maklum, ayahnya adalah seorng bangsawan Sunda yang cukup terpandang di Bandung. Umur Otto pun sudah menginjak enam tahun. Maka, sudah saatnya ia mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Oleh ayahnya, Otto disekolahkan di HIS (Hollandsh Inlandsche School), Karang Pawulang Bandung. Sekolah setingkat SD yang hanya menerima anak-anak bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, dan pegawai negeri.

Suatu hari, beberapa bulan sebelum Otto menamatkan pendidikannya di HIS. “Hei, Otto, cepat kemari. Gurunya sebentar lagi datang,” seru seorang temannya sambil melambaikan tangan dari balik jendela kelas. Otto kemudian duduk di kursinya. Ia membaca-baca buku sebentar. Beberapa saat kemudian sang guru yang dinanti itu pun datang.

“Anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang cita-cita. Sekarang Bapak mau tanya, apa cita-cita kalian setelah besar nanti?” Tanya sang guru seraya mengambil kapur dan menuliskan kata ‘Cita-cita’ di atas papan tulis dengan bahasa Belanda.

“Saya mau jadi dokter,” sahut salah seorang murid.

“Kalau saya mau jadi insinyur saja,” celetuk temannya.

“Saya mau jadi saudagar  atau pengusaha biar banyak duit,” timpal yang lainnya.

Otto diam sejenak, ia tak memberi jawaban apa pun. Meski demikian, bukan berarti ia tidak punya cita-cita. Melihat Otto terdiam, gurunya pun bertanya. “Otto, kamu ingin jadi apa?”

“Saya ingin menjadi guru seperti Bapak. Saya ingin sekali membebaskan bangsa ini dari kebodohan hingga menjadi manusia-manusia cerdas dan terlepas dari ketertindasan dan kemiskinan,” jawab Otto lantang.

***

HARI itu, langkah Otto terhenti di sebuah bangunan kokoh yang serba putih. Matanya menatap lekat jendela-jendela besar setinggi pintu yang terpasang di dinding-dindingnya. Lengkap dengan tiang-tiang tebal menjulang sebagai penyangga dan pemercantik bangunan itu. Satu dua pohon mahoni dan palem merindangi halamannya yang luas. “Inilah sekolahku selanjutnya,” gumam Otto.

Otto melanjutkan langkahnya memasuki pintu utama bangunan itu. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru, Otto bersekolah di Kweekschool Onder-bouw Bandung. Sekolah pendidikan guru bagian pertama. Anak-anak yang belajar di sana diwajibkan untuk berasrama di sekolah itu, supaya mereka lebih terpantau oleh guru-gurunya.

Mungkin karena sifat agresif dan pemberani yang sudah melekat dalam jiwanya, maka tak jarang buah dari sifat-sifat yang dimiliki Otto tersebut sering dianggap sebagai tindakan melawan atau tak patuh kepada aturan. Karena itu, ia acapkali mendapat hukuman dari pimpinan asrama lantaran sifat dan keberaniannya itu.

“Hei, Otto! Kamu dihukum atas perbuatanmu tadi! Kamu dilarang keluar kamar sampai besok pagi,” ucap wakil pimpinan asrama, setengah membentak kepada Otto.

“Huh, dasar anak inlander! Sudah berkali-kali ia membuat ulah. Anak pribumi yang nakal dan tak patuh itu memang pantas mendapatkan hukuman,” desis seorang pemuda Belanda dengan kesalnya, yang tak lain adalah pimpinan asrama.

Setamat dari sekolah HIS, Otto pindah ke Purworejo, Jawa Tengah. Ia pergi kesana untuk memantapkan studinya sebagai calon guru di sekolah HKS (Hogore Kweekschool), tempat pendidikan guru tingkat atas. Di sana, ia kembali tinggal di asrama. Otto, pemuda yang gemar membaca. Tulisan apapun dibacanya, termasuk bacaan yang berkaitan dengan perkembangan tanah airnya yang masih dalam jajahan Belanda.

“Kau tahu, tadi pimpinan asrama mengumumkan suatu aturan tentang larangan tidak dibolehkannya kita, murid-murid HKS untuk membaca surat kabar karangan Douwes Dekker,” kata seorang teman sekamar Otto sambil menghempaskan tubuhnya ke atas pembaringan.

Otto menghela nafas. “Ya, aku dengar kabar itu. Tapi entahlah, mungkin pimpinan sekolah tak ingin otak kita sebagai warga pribumi terwarnai oleh pemikiran-pemikiran Douwes Dekker yang dianggap mengkhawatirkan kedudukan pemerintahan Hindia Belanda,” kata Otto, sambil membetulkan posisi duduknya.

“Kamu tahu tidak, kenapa kita dilarang membaca artikel Douwes Dekker?”

“Aku tidak tahu,” sahut temannya jujur.

“Douwes Dekker itu terkenal dengan tulisannya yang sangat pedas dan sering mengecam pemerintah Belanda. Douwes Dekker menaruh empati yang sangat besar atas penderitaan dan kesengsaraan rakyat Indonesia yang sudah terlalu lama dijajah Belanda. Apa yang dilakukannya itu, dinilai oleh Belanda sebagai sebuah pemberontakan terhadap negaranya sendiri,” lanjut Otto menggebu-gebu.

“Eh, kamu tahu darimana?” tanya temannya. Ia merasa heran dengan pengetahuan Otto yang cukup luas itu.

“Ah, itu hanya perkiraanku saja. Mungkin saja perkiraanku itu benar,” ujar Otto seenaknya.

Temannya menguap, perlahan-lahan ia pun mulai tertidur. Melihat itu, Otto pun mengangkat bantalnya, lalu kembali meneruskan bacaannya pada halaman terakhir surat kabar De Express, Di surat kabar itu, Otto sering membaca artikel karangan Douwes Dekker secara sembunyi-sembunyi. Karena jika ketahuan, selain koran itu bisa dirobek, ia juga akan mendapat hukuman.

Lima tahun berlalu sudah. Otto telah lulus dari HKS tahun 1920. Di umur 23 tahun, ia mulai menyebarkan kembali ilmunya di HIS Banjarnegara. Di sana, ia menjadi pengajar sekaligus pendidik yang penuh disiplin dan tanggung jawab. Seperti cita-citanya dulu, ia menginginkan murid-muridnya menjadi generasi yang berilmu. Dengan bekal pengetahuan yang ia berikan, ia berharap  murid-muridnya memiliki rasa tanggung jawab pada negerinya, dan semakin timbul kesadaran mereka untuk segera bangkit merebut kebebasan yang sudah menjadi hak dasar manusia dari tangan penjajah Belanda.

Suatu ketika, ada seorang guru penuh wibawa masuk ke dalam kelas tujuh. Sebelum ia mengajar, ia menyuruh seorang muridnya untuk pindah duduk ke belakang.

“Soekirah, selama pelajaran saya, kamu duduk di belakang untuk sementara waktu,” ucap sang guru, setiap kali ia mengajar di kelas tujuh tersebut. Sang murid tak berani membantah. Ia lantas patuh mengikuti perintah gurunya, meski benaknya penuh dengan pertanyaan: “Apa salahku, hingga harus selalu disuruh duduk di belakang setiap diajar olehnya?”

Di pertengahan pelajaran, sang guru membuka koran yang dibawanya dan pura-pura membacanya. Tak ada yang tahu, bahwa ada bolong kecil di koran itu. Dari lubang itu, sang guru mencuri pandang wajah muridnya yang bernama Soekirah tadi. Ya, sang guru menaksir muridnya. Lucunya, guru itu tak lain adalah Otto Iskandardinata, sosok berwibawa dengan perawakan tinggi besar berkulit coklat. Di HIS Banjarnegara itulah, Allah mempertemukan Otto dengan jodohnya, Raden Nyi Soekirah. Yang akhirnya, pada tahun 1923 mereka pun melangsungkan pernikahan.

Pada tahun 1921, Otto dipindahkan mengajar ke HIS Bandung, kota dimana ia melewatkan masa kecilnya dulu. Disanalah, ia mulai memasuki ranah politik dengan aktif menjadi wakil ketua organisasi Budi Utomo cabang Bandung. Otto tak lama di Bandung. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1924, ia mendapat tugas mengajar di HIS pekalongan. Maka, dengan semangat jiwa pendidiknya, ia bersama istrinya pindah ke sana. Di Pekalongan pun, Otto menjadi wakil ketua organisasi Budi Utomo cabang Pekalongan.

Lantaran Otto adalah pribadi yang suka berterus terang dan terbuka, ia berani membongkar sebuah kasus penipuan terhadap rakyat pekalongan yang dilakukan oleh pengusaha Belanda. Kasus tersebut bernama “Bendungan Kemuning”. Keberaniannya membuka kasus tersebut, membuat residen atau pimpinan daerah Pekalongan marah. Akibatnya, Otto masuk dalam daftar hitam orang-orang yang diancam hukum buang. Konflik dengan sang residen berakhir dengan dipindahkannya residen tersebut ke daerah lain. Otto pun dipindahkan ke Jakarta, yang pada waktu itu bernama Batavia. Sikap-sikap Otto membuat gelisah pemerintah Hindia Belanda. Karena alasan itulah Otto dipindahkan ke Batavia.

Di Batavia, ia kemudian mengajar di HIS Muhammadiyah. Disana, mulai bulan Juli 1928, ia memasuki organisasi baru dengan langsung menduduki jabatan sebagai Sekretaris Pengurus Besar Organisasi Paguyuban Pasundan cabang Batavia. Otto yang berdarah Sunda sangat berpartisipasi dalam organisasi kebudayaan tersebut. Paguyuban Pasundan tak lain merupakan orsanisasi yang didirikan kebanyakan oleh orang-orang Sunda. Tujuan utamanya adalah memajukan kehidupan orang-orang Sunda khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya. Organisasi itu didirikan atas keyakinan bahwa suatu saat Indonesia pasti merdeka. Bulan Desember pada tahun yang sama, diadakan rapat di Bandung. Otto terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan.

“Menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, masyarakat Sunda dengan adanya ketua yang terampil seperti Pak Otto sebagai penggerak dan penerus Paguyuban Pasundan,” Siang itu, seorang pemuda Sunda tersenyum sambil bergumam pelan. Matanya lurus menatap Sipatahunan di tangannya, sebuah surat kabar terbitan Paguyuban Pasundan.

“Ya, Paguyuban Pasundan semakin diminati dan mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah dipimpin oleh Pak Otto.” timpal teman disampingnnya yang juga turut membaca Sipatahunan.

“Tahun 1941 ini, tercatat sudah 51 unit sekolah yang tersebar di 36 daerah di Jawa Barat yang didirikan oleh Paguyuban Pasundan. Bukankah ini prestasi yang luar biasa?” lanjut pemuda Sunda tadi berapi-api. Ia melipat kembali surat kabar dan meletakannya di atas meja, lalu diseruputnya kopi panas dihadapannya.

“Yah…, itu diantaranya karena Pemerintah kolonial Belanda sedikit sekali mendirikan sekolah. Selain itu, Paguyuban Pasundan mengerti betul bahwa untuk memajukan rakyat, diantara cara yang paling pas adalah memajukan pendidikannya pula.” desis teman si pemuda yang masih asyik membaca surat kabarnya. “Kiranya Pak Otto begitu menjiwai peranannya dalam pengembangan bidang pendidikan karena ia sendiripun berprofesi guru dulunya.” lanjutnya.

“Di bidang sosial, Paguyuban Pasundan membantu para penduduk yang terkena bencana alam, seperti banjir, kebakaran dan masyarakat miskin yang kelaparan. Bahkan, kudengar, Pak Otto memberi bantuan berupa sembako gratis untuk siapa saja yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan.” si pemuda berdecak kecil. Teman di sampingnya spontan menjentikkan jari. “Dia figur pemimpin dermawan yang patut dicontoh!” pekiknya.

“Ya, dan kukira, Raden Nyi Soekirah, istrinya Pak Otto, harus pandai-pandai mengatur keuangan untuk menghadapi sifat murah hati suaminya.” Si pemuda tersenyum, benaknya tengah dipenuhi sosok bersahaja itu.

Otto dikaruniai 12 orang anak. Meski ia sibuk mengurusi organisasi Paguyuban Pasundan, dan menjadi anggota parlemen di pemerintahan Hindia Belanda, namun tak mengurangi perhatiannya kepada anak-anaknya. Jika salah seorang anaknya berulang tahun, misalnya, ia tak lupa mengajak anaknya jalan-jalan atau pergi ke toko untuk membeli kado.

Dengan 12 anaknya itu, Otto menempati rumah yang cukup besar dan banyak kamar. Namun, kamar mandinya hanya ada satu. Ketika pagi menjelang anak-anaknya mengantri di depan kamar mandi menunggu ayah mereka yang sudah masuk lebih dahulu. Jika sang ayah sudah selesai dan membuka pintu kamar mandi, ia akan berteriak “Indonesia Merdeka!” dengan kepalan tangan yang diangkat. Jika anak-anaknya diam saja, ia akan mengulanginya lagi sampai anak-anaknya meniru ucapannya. “Merdeka!”. Dengan kebiasaan seperti itu, Otto berusaha menanamkan rasa nasionalisme pada keluarga, terutama pada anak-anaknya.

Suatu ketika Otto berkata kepada anak-anak lelakinya. “Anak-anakku, lekatkanlah kata-kata ayah di hati kalian. Ingatlah, bahwa kita punya tiga Ibu yang harus kita cintai.” Suaranya yang tegas berhenti. Ia memandang anaknya satu per satu, kemudian melanjutkan perkataannya. “Ibu yang pertama adalah ibu kandung. Ibu yang kedua adalah ibu dari anak-anak kalian nanti. Ibu yang ketiga adalah ibu pertiwi. Ibu yang pertama harus rela ditinggalkan demi kepentingan ibu kedua. Dan ibu kedua pun harus rela ditinggalkan demi kepentingn ibu ketiga.”

Pada rapat sidang volkraad (parlemen), Otto dikenal suka mengecam Pemerintah Hindia Belanda. Ia berani berterus terang dalam mengemukakan pendapatnya tentang ketidakadilan dan sindiran pada Pemerintah Hindia Belanda. Tak jarang, Otto dan pihak Belanda saling berdebat dalam rapat. Otto cerdik dalam membabat lawan-lawannya dengan gebrakan mautnya.  Tak heran bila para penjajah Belanda itu akhirnya sering naik pitam. Karena keberaniannya kepada Pemerintah Hindia Belanda itulah, ia dijuluki “Si Jalak Harupat”. Julukan ini, bermakna seperti ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu.

Pada suatu kesempatan dalam rapat, Otto meluncurkan ucapan tajamnya pada para penjajah Belanda. “Seperti orang beriman percaya akan adanya Allah, begitulah juga saya percaya akan datangnya kemerdekaan bagi semua negara terjajah, juga bagi Indonesia. Cara rakyat memperoleh kemerdekaan dengan atau tanpa kekerasan itu bergantung kepada negara Belanda sendiri. Akan tetapi, saya percaya Tuan Ketua, bahwa bangsa Tuan  yang dikenal sebagai bangsa tenang berpikir akan mampu memilih antara dua kemungkinan ini. Mengundurkan diri atau diusir.”

Pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan rahmat dari Allah SWT, Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dengan usaha dan kerja keras dari seluruh rakyatnya dari penjajahan Jepang. Otto Iskandardinata tak hanya berperan di organisasi Budi Utomo, anggota Parlemen dan Paguyuban Pasundan saja. Ia pun terpilih untuk mengikuti sidang PPKI, pada 19 Agustus 1945. Ia spontan memberikan suaranya untuk mencalonkan Bung Karno sebagai presiden pertama, dan Bung Hatta sebagai wakil presiden Indonesia di awal kemerdekaan waktu itu. Semua yang menghadiri sidang PPKI menyetujui usulannya.

Otto mendapat amanat menjadi Menteri Keamanan Pertama yang mengurusi masalah-masalah penting di awal kemerdekaan. Ketika itu, penjajah Jepang masih berada di tanah air. Para pemuda Indonesia ingin merebut senjata dari orang-orang Jepang. Karena di awal kemerdekaan, Indonesia belum mempunyai jumlah senjata yang banyak untuk berjaga-jaga kemungkinan adanya penyerangan dari luar. Rencana perebutan itu dilakukan oleh para pemuda. Namun gagal, dan hanya sedikit sekali yang berhasil. Jepang enggan menyerahkan senjatanya karena mereka mendapat amanat dari Sekutu untuk tidak menyerahkan senjatanya dan tetap berada di Indonesia sampai sekutu datang.

Para pemuda meminta Otto untuk menghubungi pihak Jepang agar menyerahkan senjata-senjatanya pada para pemuda. Akhirnya Otto mendatangi Jenderal Mabuchi, dan mengutarakan keinginan para pemuda. Hasil pembicaraan Otto dengan pihak Jepang tidak memuaskan para pemuda. Mereka sudah tidak sabar dengan proses yang berjalan lambat. Perampasan senjata pun terus dilakukan oleh pemuda. Jepang tak tinggal diam. Mereka pun mengadakan serangan balik ke markas-markas pemuda. Hal ini membuat para pemuda marah.

Suatu hari, Otto mendapat telegram dari Pemerintah Pusat. Isinya bahwa Pemerintah pusat memberi perintah pada Otto untuk segera datang ke Jakarta. Kerabat dekat menyarankan Oto untuk berhati-hati dan jangan mengindahkan perintah tersebut. Mereka khawatir itu hanyalah perintah palsu. Lagipula, situasi di Bandung masih genting karena terjadi penculikan beberapa pemimpin pemerintahan.

“Ini adalah panggilan tugas. Saya harus pergi. Ini sudah jadi tanggung jawab saya sebagai seorang menteri.” Begitu jawab Otto terhadap kekhawatiran kerabat dekatnya.

Jika sudah ada kemauan, maka tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Maka berangkatlah Otto ke Jakarta. Selain di Bandung, Otto punya rumah di Jalan Kapas no.2 Jakarta. Sebelum datang memenuhi panggilan Pemerintah Pusat, ia singgah terlebih dulu ke rumahnya di Jakarta. Tanggal 10 Desember, ketika ia berada di rumahnya itu, ia didatangi empat orang laki-laki tak dikenal. Dengan kasar mereka mendobrak pintu rumah Otto.

“Apa-apaan ini?! Siapa kalian?! Berani-beraninya masuk rumah orang tanpa izin!!” teriak Otto dengan nada tinggi ketika empat laki-laki itu berputar mengelilingi Otto.

“Kami datang untuk membawamu pergi !” Jawab salah satu dari mereka sambil tersenyum menyeringai. Di tangannya terdapat sejenis senjata tajam.

“Lancang sekali mulutmu!” pekik Otto geram. Empat orang itu menyerang Otto. Otto menghindar dan balik menyerang. Sebuah pukulan mendarat di bagian belakang kepalanya. Otto tersungkur dan jatuh tak sadarkan diri.

Beberapa hari setelah terjadinya peristiwa misterius itu, Raden Nyi Soekirah mendapat surat dari suaminya bahwa ia tengah mendapat cobaan berupa fitnah. Nyi Soekirah begitu pilu hatinya. Hari-harinya menjadi suram, terlebih karena ia sedang mengandung anak bungsunya. Surat itulah menjadi surat terakhir yang diterima olehnya.

Otto telah diculik oleh anggota Laskar Hitam Tangerang. Otto mendekam di rumah tahanan Tanah Tinggi selama lima hari dari tanggal 10 sampai tanggal 15 Desember. Dari tahanan Tanah Tinggi ia dipindahkan ke rumah tahanan di Mauk (sekarang, kantor Pegadaian Mauk).

Dan tibalah hari naas itu. Tanggal 20 Desember, Otto Iskandardinata atau Otista menemui ajalnya. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah dieksekusi oleh anggota Laskar Hitam yang beranggotakan Mutjiba dari Teluknaga, Usman dari Kampung Bayur, Mukri, mantri kehutanan Mauk, dan Enjon dari Sepatan. Pesisir pantai Mauk menjadi saksi bisu kematiannya yang tragis. Tempat kematiannya lebih tepatnya di Blok Toa Sia, Kampung Pelelangan, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Tak ada yang mengetahui pasti penyebab diculik dan dibunuhnya Otto di pantai Mauk. Dari beberapa pendapat yang ada, salah satunya adalah karena Otto dianggap gagal melakukan pendekatan terhadap tentara Jepang untuk mengambil alih perlengkapan senjatanya, juga karena terlalu dekat dan percayanya pada kekuatan militer Jepang, sehingga dianggap berpihak pada Jepang. Ada juga yang berpendapat bahwa kematiannya disebabkan karena seseorang atau sekelompok orang yang dendam karena langkah dan ucapannya yang tajam tanpa pikir panjang.

Sampai sekarang pun, jenazahnya tak pernah ditemukan. Tak ada yang tahu dibuang kemana. Tanggal 10 November1973, pemerintah menganugrahkan gelar Pahlawan Nasional pada Otto Iskandardinata. Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasanya, Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang mendirikan monumen Otista di tengah-tengah pertigaan Mauk. Monumen tersebut telah mengalami dua kali perubahan bentuk (1990 dan 1996). Monumen yang diresmikan oleh Bupati Tangerang H. Muchdi pada tahun 1966 ini, didirikan dengan tujuan untuk mengenang semangat perjuangan Otto Iskandardinata yang tak pernah padam. Namanya pun diabadikan menjadi nama jalan di beberapa tempat,. Diantaranya di wilayah Mauk, Bandung, dan Jakarta. Tidaklah sulit mengenali pahlawan Otto Iskandardinata, karena wajahnya dapat kita lihat pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tahun 2004.

Cerita ini merupakan kisah nyata, karena melibatkan para pelaku sejarah. Sebagai generasi penerus kemerdekaan, kita bisa memetik hikmah dan keteladanan dari seorang Otto Iskandardinata. Otto Iskandardinata adalah pejuang yang gagah berani. Otto yang dikenal sebagai politisi, jurnalias dan pendidik ini, adalah seorang penegak keadilan yang tak mau berkompromi dengan ketidakjujuran dan kebatilan. Dengan semangat patriotismenya, ia rela menghadang maut karena memenuhi panggilan tugas dari Pemerintah Pusat saat itu. Meski sebenarnya, Pemerintah Pusat tak pernah memanggilnya ke Jakarta. Ia tak takut mati demi pengabdiannya kepada Tanah Air Indonesia.

* Selesai

Ditulis pada Kolom | Tinggalkan Komentar

IMLC dan Rohis SMAN 11 Kab. Tangerang gelar Taklim Motivasi Islami

Minggu (17/7) ada suasana berbeda di Aula SMAN 11 kab. Tangerang Sepatan. Pagi itu suasana menjadi riuh karena banyak siswa baru yang datang ke sekolah untuk mengikuti Taklim Motivasi Islami dengan tema “Ababil: ABG Stabil” yang diadakan oleh Insan Madani Learning Centre (IMLC) bekerjasama dengan Rohis SMAN 11 Kab. Tangerang.

A. Khoirus Sholeh, selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan diadakannya acara Taklim Motivasi Islami ini adalah untuk memberikan motivasi Islami kepada kepada peserta mabis (Masa Bimbingan Siswa) serta pembekalan kepada mereka tentang transisi dari dunia SMP ke dunia SMA.

Acara yang dihadiri oleh 225 orang peserta ini berjalan dengan lancar. Setelah pembukaan dan sambutan dari Pembina rohis, peserta kemudian diajak ke acara inti yaitu training motivasi yang dipandu oleh trainer dari IMLC. Setelah itu, peserta juga diajak out bond, karena acara ini dirancang untuk memberikan semangat dan motivasi bagi peserta didik baru.

Salah seorang peserta, Putri Nuraini mengatakan bahwa, “ Selama acara tadi seru banget melalui acara ini saya jadi punya banyak pengalaman. Termotivasi untuk lebih meningkatkan prestasi serta berbakti kepada orang tua“. Putri pun berpesan kepada kepada peserta lain untuk tetap semangat dan tetap maju dan kompak meski dalam keadaan apapun.

Ditulis pada Kabar, Motivasi | Di-tag , | 4 Komentar

Ikhtiar Untuk Menciptakan Orang-orang Besar: Catatan Dari IMLC Camp 2011

“Saya sungguh percaya bahwa cara terbaik untuk mengembangkan diri adalah dengan cara mencari mentor. Ilmu yang diserap dari satu mentor bias menyamai ratusan buku dan duduk bertahun-tahun di bangku kuliah.”

Itu adalah kalimat yang ditulis oleh Dr. Dino Patti Djalal, mantan juru bicara Presiden yang kini menjadi duta besar RI untuk AS, dalam bukunya yang berjudul Harus Bisa. Kalimat itu menegaskan bahwa untuk sukses kita bias belajar dari orang lain.
Hal itu yang kami sadari di IMLC, bahwa untuk mendorong seseorang menjadi sukses bukanlah perkara gampang dan diperlukan contoh. Maka kami telah menyiapkan satu program unggulan yaitu Learning Group (LG), adalah program pembinan pelajar dan pemuda dalam kelompok-kelompok kecil yang dibimbing oleh seorang fasilitator. Di LG seorang fasilitator berperan juga sebagai seorang mentor bagi binaanya.
Selain itu, untuk meningkatkan skill pelajar dan pemuda, IMLC juga menggulirkan program IMLC Camp. Di acara tahunan ini, kami berusaha menghadirkan orang-orang besar yang sudah mengukir prestasi baik tingkat nasional maupun dunia. Hal ini kami lakukan untuk mendorong pelajar dan pemuda di Tangerang lebih maju. Karena mereka dihadapkan langsung dengan orang-orang sukses.
Pada tahun pertama acara IMLC Camp, kami mengundang Shofwan Al Banna sebagai pembicara, ia adalah anak muda Indonesia yang pernah meraih juara Mahasiswa berprestasi Tingkat Nasional dan orang Indonesia pertama yang mampu menjuarai The 39th St Gallen Symposium, Swiss 2009. Sedangkan pada pelaksanaan tahun kedua yang baru saja berlangsung di SMA-SMK Perintis 1 Sepatan tanggal 25-26 Juni 2011 kemarin menghadirkan Andi Suhandi, pemenang Kick Andy Young Hero 2011.
Dengan menghadirkan mereka, maka pelajar di Tangerang bagian Utara, yang boleh dibilang masih desa bias belajar dan melihat langsung proses menuju sukses orang-orang itu. Karena di sana tersimpan pelajaran. Melalui orang itu, kita bisa belajar tentang watak serta karakteristiknya, kebiasaan hidupnya, kiat-kiat keberhasilannya. Meniru proses yang telah ia lalui dapat menyakinkan kita untuk berhasil menggapai apa yang yang kita cita-citakan.

Respon dari peserta pun beragam, Dian Fitriyah misalnya. Anggota rohis dari SMA 2 kab. Tangerang ini mengungkapkan kesannya ketika bisa bertemu dengan Andi Suhandi, “Subhanallah dan syukur Alhamdulillah bisa bertemu dengan sosok luar biasa seperti kak Andi. Beliau merupakan motivator bagi setiap orang, saya senang bisa mengetahui pengalaman beliau karena dengan kegigihannya, ketulusan, dan keikhlasan beliau untuk memelihara anak-anak jalanan menjadi berprestasi, membuat saya sadar akan terasa berharga kalau kita bisa menghargai orang lain dan membantu sesama.”
Tentu kami dari IMLC, akan terus berupaya menciptakan orang-orang besar. Kami akan menghadirkan tokoh-tokoh besar lainnya untuk dipertemukan langsung ke pelajar dan pemuda di tangerang. Dan kami yakin jika suatu saat nanti, binaan kami yang saat ini masih pelajar akan menjadi orang sukses. Seperti kalimat Sofwan, mari percaya bahwa Indonesia masa depan adalah kisah tentang kegemilangan.

Ditulis pada Kolom, Pembangunan Karakter | Di-tag | Tinggalkan Komentar

SMK se Tangerang Lakukan Latihan Siap Siaga Gempa

Tangerang, para siswa dan siswi SMK se Tangerang adakan paket Latihan Siap Siaga Gempa di SMK Perintis, Kota Bumi, Tangerang pada Minggu (26/6/2011) yang diselenggarakan Insan Madani Learning Center (IMLC) bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bertajuk IMLC Camp 2011.

Ahmad Yunus, salah seorang panitia begitu gembira dan mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya pelatihan ini. Yunus, merasa terbantu atas materi yang diberikan kepada siswa yang secara geografis, letak sekolah mereka berada di tepi pantai. “Peserta banyak yang bertanya seputar tsunami dan dampaknya, dan saya senang mereka puas atas penjelasan pemateri” ujar Yunus.

ACT terus berupaya melakukan edukasi secara intensif seputar bencana, penanggulangannya yang seluruhnya sudah terintegrasi dalam kurikulum yang dikemas oleh Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), salah satu lembaga dari ACT yang menangani edukasi bencana.

Ditulis pada Kabar, Pembangunan Karakter | Di-tag , | 2 Komentar

Liburan Seru ala IMLC Camp 2011

Bagi mereka yang masih di bangku sekolah, liburan menjadi hari yang ditunggu- tunggu. Setelah melewati ujian kenaikan kelas, liburan menjadi saat yang tepat untuk melepaskan penat dari aktivitas bersekolah sekian lama.
Mungkin ada yang mengisi liburan dengan bertamasya bareng dengan keluarga. Ada juga yang berlibur ke tempat nenek atau saudara di luar kota.Tapi, ada juga cara liburan yang beda seperti yang dilakukan Insan Madani Learning Centre (IMLC), salah satu LSM yang fokus pada pembinaan pelajar dan pemuda. Untuk mengisi liburan sekolah ini dengan menggelar acara IMLC Camp 2011 dengan tema “dari desa menuju dunia” yang diselnggarakan pada hari sabtu sampai dengan minggu (25-26 Juni) yang bertempat di SMA-SMK Perintis 1 Sepatan.
Acara IMLC Camp merupakan acara tahunan dari IMLC, tahun ini adalah pelaksanan yang kedua setelah tahun lalu IMLC Camp diadakan di Bogor. IMLC Camp 2011 sendiri diikuti oleh 61 peserta yang berasal dari 12 Sekolah di sekitar Kabupaten Tangerang.


Selama dua hari perserta diberikan berbagai mata acara yang bertujuan untuk mengembangkan motivasi dan potensi diri, seperti temu tokoh dengan Andi Suhandi yang meraih Kick Andy Young Hero 2011 atas usahanya dalam mengasuh anak jalanan di Sanggar Anak Matahari. Ada juga kajian keIslaman yang diisi oleh M. Ridwan M.Psi. Selain itu peserta juga diberikan Achievment Motivation training yang diisi langsung oleh Supriyatnad engan judul membangun mental. Selain pengemblengan mental dan pikiran, peserta juga diberikan Outbond untuk melatih skill, kekompakan dan fisik. Peserta juga diajak untuk peka pada lingkungan sekitar terutama pada ancaman bencana dengan cara pendidikan kebencanaan yang langsung diisi oleh Relawan-relawan berpengalamn di daerah bencanadari Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).


Acara ditutup dengan pengumuman peserta terbaik putra dan putri. Pada acara IMLC Camp 2011 ini dua penghargaan itu jatuh kepada peserta dari SMAN 2 Kab. Tangerang, yaitu Dian Fitriyah untuk putri dan putranya jatuh kepada Mahfudin. Panitia berharap semoga acara ini bermanfaat bagi peserta dan semoga terlahir pemuda berprestasi dari alumni IMLC Camp 2011.

pada kesempatan ini, panitia ingin mengucapkan terimakasih kepada:

SMA-SMK Perintis 1 Sepatan

Aksi Cepat Tanggap (ACT)

 

 

 

Duta Nusantara

 

 

 

DKM Attaqwa PT. Panarub Industry

Donatur Individu dan semua pihak yang membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ditulis pada Kabar, Motivasi, Pembangunan Karakter | Di-tag | Tinggalkan Komentar